Sunday, October 9, 2011

Review | Jogjanews.com


Pameran Fotografi “3Point Award” Mes56, Dorong Konsistensi Fotografi Kontemporer Anak Muda


October 9th, 2011 | 18:37

Fungsi dapur tidak hanya dimanfaatkan sebagai ruang persiapan memasak dan proses memasak tetapi juga bisa menampilkan fungsi lain. Di Bromo, dapur kerapkali menjadi fungsi tempat bertemunya keluarga, teman atau siapa saja.
Suasana Pameran Fotografi "3point Award" oleh MES 56
di Rumah Kelas Pagi Jogja , Sabtu (8/10)
Bagi masyarakat tradisional Jawa, dapur juga biasa sebagai tempat menyimpan hewan ternak dan peralatan pertanian. Bahkan pada masyarakat pinggiran kota Jakarta, dapur melebur menjadi satu ruangan dengan ruang interaksi dan tempat tinggal sebuah keluarga.

Inilah yang terekam dalam karya fotografi Seto Hari Wibowo dalam Pameran Fotografi “3Point Award” MES 56 yang diselenggarakan di Rumah Kelas Pagi Jogja, Sabtu-Senin (8-31).
Seto hari Wibowo adalah salah satu dari tiga orang penerima 3point Award yang diselenggarakan MES  56 . Selain seto penerima 3point Award yang lain adalah Dito Yuwono dan Doni Maulistya.
Selain Seto dengan konsep fotografi “Di belakang”, dalam pameran fotografi yang didukung Jogjanews.com ini, Dito Yuwono menampilkan tema “Have Meet” sementara Doni Maulistya yang menampilkan konsep “Sudah Saatnya”.
3point Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada tiga orang muda atas konsistensinya di dalam aktifitas fotografi kontemporer.
Tujuannya adalah mempromosikan konsep dan kreatifitas fotografi kontemporer sebagai inspirasi untuk generasi muda yang konsisten dengan fotografi sebgai mediumnya.
Angki Purbandono, kurator pameran menuturkan 3Point Award adalah penghargaan yang sifatnya reguler yang diberikan terhadap sikap konsestensi anak muda di bawah 30 tahun yang aktif dengan eksperimental dan gagasan  dalam  fotografi yang lebih spesifik ke kontemporer.
“Penghargaan itu penting menurutku, konsistensinya dan regenerasinya ada pembuktian dan di situ diuji. Aku yakin award semacam ini akan menjadi regenerasi yang bagus dan sehat,” kata Angki, Sabtu (8/10) malam.
Proses penghargaan ini dimulai sekitar satu tahun lalu dan menariknya para penerima penghargaan tidak memiliki latar belakang pendidikan formal fotografi. Ketiganya memiliki aktifitas yang bermacam-macam mulai dari fotografi jurnalistik, eksperimen, dan riset.
“Padahal mereka aktifitasnya lebih dari tiga tahun dan tidak punya pendidikan formal fotografi. Ini yang patut kita menghargai supaya aktifitasnya dalam fotografi kontemporer selalu menjadi inspirasi bagi yang muda,” jelas Angki.
Tema yang ditampilkan berasal dari masing-masing fotografer dan kurator hanya mengembangkan dan mengkomparasi sesuai dengan pengalamannya sebagai seniman visual.
“Mereka lebih memperlihatkan teknologi yang berarti untuk orang lain apabila gagasan itu diolah dari pengalaman atau situasi sekitar mereka. Jadi, bukan aktifitas teknik ata cerita dongengya (dalam pameran ini) justru aktifitas mereka melihat realitas dulu lalu mengembangkannya,” ujar Angki.
Selain menampilkan 55 karya fotografi, ada agenda Artist Conversation di Rumah Kelas Pagi Yogyakarta, Senin (10/10) jam 4 sore. (Jogjanews.com/Anam)

No comments:

Post a Comment